Ini Hidup Kami Tanpa Ayah

iSebut saja SNF. Saya berusia 16 tahun. Saya saya memiliki satu orang tua,ibuk. Saya memiliki adik, dan 2 orang nenek. Hari ini adalah dua hari setelah berangkatnya ibu bekerja merantau. Keberangkatan ibu kali ini semakin menyikssa hati saya karena adik saya yang baru lulus smp sudah ikut bekerja dengan ibuk. 2 orang yang sangat saya cintai hari itu pergi meniggalkan saya. Meski suah menginjak kelas 2 sma, saya tetaplah seorang anak dan seorang kakak yang menangis dengan sakit hati saya. Saya akan berjumpa dengan ibu dan adikku menuggu hari raya. Mereka hanya pulang setahun sekali. Sebelum masuk sekolah saya juga harus kembali ke rumah bibi saya. Saya sekolah di luar kota,karena disini termasuk desa. Saya dititipkan disana meskipun saya tertekan saya tetap menerima demi ibu saya. Saya berkunjung di sini dirumah nenek ketika ada hari libur. Kebahagiaan saya hanya terletak di hari raya. Saya merasakan hangatnya kasih sayang dari ibu, indahnya kebersamaan dengan keluarga juga saya hanya dapat rasakan di hari raya. Saya hanya dapat berkomunikasi lewat telefon dengan ibu saya. Itupun hanya via suara karena ibu saya tidak bisa menggunakan android.
Saya mencoba menerima hidup ini, karena saya yakin ini adalah ujian hidup yang akan berbuah kebahagiaan nantinya. Sejak kecil saya hidup terpisah dari ibuk. Tepatnya saya umur 4 tahun sbeelum daftar ke Tk. Sejak saat itu pengambilan rapot, perpisahan, rekreasi, rapat ortu selalu dihadiri oleh nenek saya. Lambat laun saya sudah remaja, saya sudah memiliki rsa cemburu dalam hati jika melihat teman teman dengan kedua orang tuanya tertawa bersama. Saya juga cemburu melihat teman saya yang juara 5 kelas dipeluk oleh ibunya ketika pengambilan rapot, pada saat itu saya juara 3, dan nenek yang mengambil rapot saya. Ibuku.. kami hanya bertemu setahun sekali. Dan sebentar lagi saya berusia 17 tahun. Saya sudah kehilangan masa anak anak saya tanpa kasih sayang ibu ataupun ayah. Meskipun saat ini sifat saya yang cengeng masih seperti kekanak kanakan.
Ayah?dimana ayah saya? Ayah saya pegi ke Kalimantan berpamitan mencari uang, ayah saya pergi saat saya masih berusia 18 bulan, dan adik saya yang masih 3 bulan. Ayah hanya transfer beberapa kali, setelah itu tidak dapat dihubungi dan tidak transfer uang lagi. Kata nenek, ayah tidak ingin mentransfer uang ketika ibu sedang membutuhkan uang untuk susu saya dan adik saya. Sejak saat itu hubungan terputus. Sampai saya kelas 3 SD, tiba tiba saudara saya memberi nomor telefon ayah saya. Saya saat itu masih kecil, begitu bahagianya menerima telefon dari ayah. Mendengar suara ayah,rasanya seperti mimpi yang tak tersampai tapi terwujud. Tidak kurang dari 1 minggu kami berkomunikasi. Tba tiba ayah tidak dapat dihubungi kembali setelah diminta uang untuk membeli keperluan sekolah saya dan adik. Sejak saat itu.. kami hidup seperti biasanya. Kami dibesrkan oleh kedua nenek kami. Kami hanya tinggal berempat serumah. Dan ibu hanya pulang setahun sekali. Ibu bekerja sebagai buruh masak. Ibuk sangatlah menyayangi kami. Tanpa seorang ayah,ibuk membesarkan kami dengan hasil keringatnya. Dan kedua nenek kami yang merawat kami.
Sekarang saya berusia 16 tahun, adik saya berusia 15 tahun. Melihat adikku yang putus sekolah dan bekerja bersama ibuk di Bali. Hanya saya yang diharapkan oleh ibuk sampai lulus SMA. Saya menangis terisak melihat adik dan ibu naik ke bus. Dalam hati saya berkata...
 Seandainya seorang ayah ada dalam hidup kami.
Seandainya yang kusebut ayah benar benar berperan sebagai ayah.
Seandainya sosok ayah itu berperasaan
Seandainya sosok ayah itu punya hati
Seandainya sosok ayah memang ada..
Tidak mungkin ia meninggalkan istri dan kedua anaknya
Tidak mungkin ia tidak memberi nafkah
Tidak mungkin ia sekalipun tidak mengunjungi kami.
Tidak mungkin kan???

Dihatiku , ada dua sisi untuk ayahku. Aku masih tetap seorang anak yang mencintai kedua orang tuanya. Sisi satunya, aku manusia biasa yang merasakan sakit hari, apalagi sampai saat ini aku tak pernah melihat ayahku satu kalipun. Aku juga ingin mengetahui keadaanya, apakah ayahku masih hidup dengan baik? Siapapun, tolong bantu kami. Ayahku bernama Abdullah Khalik, dia di Kalimantan . 
untuk kalian yang memiliki kuasa dan terhormat, saya memohon untuk bantuan kalian.

Komentar